Jumat, 28 Desember 2012

Arti Sebuah Kebahagiaan


What do you think about kebahagiaan? Mungkin sesuatu yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata dan hanya dirasakan di dalam hati. Terkadang orang banyak menuntut sukses untuk menjadi bahagia. Memiliki rumah mewah dengan fasilitas yang wah gitu bisa dikatakan bahagia. Memiliki mobil BMW dengan terdapat di AC di dalam mobil juga bisa dikatakan bahagia. Memiliki pekerjaan dengan gaji yang luar biasa banyaknya juga bisa dikatakan bahagia. Mendapatkan IP tertinggi juga bisa dikatakan bahagia. Tapi lepas dari hal ini, pernahkah kita berpikir akan hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya itu? Apakah dengan mempunyai rumah mewah dikatakan bahagia yang sesungguhnya? Tidak juga coba bayangkan rumah mewah itu banyak menggunakan fasilitas elektronik yang menghabiskan banyak energy yang ujung-ujungnya menghabiskan uang dalam dompet. Wah sungguh hal yang di luar dugaan. Memiliki mobil BMW pun  sama juga banyak menghabiskan uang. Coba kita bandingkan dengan rumah sederhana yang berisi dengan keluarga bahagia maka kita pun akan bahagia pula. Jadi mengapa kita harus sedih karena tidak memiliki rumah semewah orang yang kaya? Toh pada akhirnya kita juga akan bahagia diberikan rumah sederhana oleh Allah. Syukurilah nikmat yang terlihat kecil tetapi dirasakan terlihat besar. Begitu pun dengan memiliki mobil BMW mending mempunyai kendaraan yang tidak terjebak dalam kemacetan atau  mempunyai sepeda mungil yang dengannya kita akan menjadi sehat. Kemudian jika IP tinggi merupakan titik kebahagian, tidak juga tuh. Pada sebenarnya orang yang menuntut IP tidak akan berasa ilmu yang dia dapatkan. Waktunya pun tersita hanya untuk belajar demi mendapatkan sebuah IP yang tinggi. Pernah kita sadar akan ilmu yang kita peroleh jika hanya demi mendapatkan IP yang tinggi? Sebuah ilmu akan terasa nikmat apabila dipelajari dibalik hati yang tak mengharapkan nilai (ikhlas). Karena pada dasarnya nilai bukan segalanya tetapi ilmulah yang menjadi segalanya. Apabila kita memahami dan mempelajari ilmu itu sungguh-sungguh maka nilai pun akan bersamaan kita dapatkan. Coba kita menuntut nilai terlebih dahulu maka mustahil ilmu kita pahami. Sekarang sadarlah bahwa pada hakikatnya arti sebuah kebahagiaan yakni kita menikmati apa yang telah Allah berikan kepada kita. Jadi tak perlu menunggu rumah mewah untuk bahagia, tak perlu menunggu mobil yang mewah untuk bahagia. Hari ini bahkan detik ini kita bisa bahagia yakni dengan mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang tak bisa dihitung oleh jemari.
=>Tersenyumlah dan nikmat apa yang telah Allah berikan. Jangan biarkan dirimu tak bahagia hari ini bahkan seterusnya. Indahnya hidup jika kita bersyukur atas semua nikmat.
Sebuah kalimat yang tak bisa ku rangkai dalam bait-bait puisi
Sebuah kalimat yang tak bisa ku lukis dalam kertas buram
Sebuah kalimat yang tak bisa ku tulis dalam goresan pena
Sebuah kalimat yang tak bisa ku ungkap lewat mulut mungil ini
Terima kasih telah hadir dalam kehidupanku wahai semua orang yang ku sayangi

Minggu, 14 Oktober 2012

Berbaik Sangka Kepada Allah

 

Kita semua tentu telah tahu dan yakin, bahwa Allah itu mempunyai sifat Rohman dan Rahim (pengasih dan penyayang). Dengan sifat Rohman-Nya, Dia memberikan karunia yang begitu besar kepada hamba-hamba-Nya, baik yang beriman maupun yang kafir. Sedangkan sifat Rohman-Nya hanya Dia berikan kepada hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa di akhirat nanti.
Dengan mengingat nikmat yang begitu besar tersebut, sebagai hamba yagn beriman sudah seharusnya apabila kita senantiasa berbaik sangka kepada-Nya. Dan jangan sekali-kali kita menyamakan diri kita dengan orang kafir, yang apabila ditimpa kesusahan mereka akan mengatakan "Wahai celakalah kami, Allah sudah bosan sehingga tidak memperdulikan kami." Padahal sebenarnya sudah tidak terhitung lagi nikmat Allah yang sudah diberikan kepada-Nya.     
Adapun berbaik sangka kepada Allah itu terbagi menjadi tiga macam, yaitu:
1.      Berbaik sangka dari golongan khas atau tertentu, seperti orang sholeh yang beriman dan bertaqwa. Apabila mereka itu mengalami sesuatu hal, baik menyenangkan maupun menyusahkan, maka akan bertambah cinta dan takwanya kepada Allah.
2.      Berbaik sangka dari golonga awam (umum). Hanya apabila mereka mengalami sesuatu yang menyenangkan mau bersyukur.

Sumber: Labil, Ustadz Mz. 2007. Menembus Cahaya Ilahi. Surabaya: Putra Jaya.